Umur 30 sukses menjadi CEO
by admin on Jan.20, 2010, under Cerita Sukses
Kegagalan mengelola beberapa bisnis menjadi pelajaran berharga bagi Mada Azhari. Kendati tidak memiliki latar belakang pendidikan media, ia punya ketertarikan yang besar terhadap bisnis media. 
Usia muda selalu dipenuhi ide-ide kreatif. Termasuk semangat menyala-nyala yang seringkali membuahkan berbagai keputusan berani. Dalam banyak hal, para entrepreneur muda, khususnya, selalu berprinsip: cepat ambil keputusan, resiko belakangan. Karakteristik semacam ini sangat lazim dijumpai dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Mereka bahkan tak lagi memandang dunia bisnis sebagai ‘momok’ yang mesti ditakuti.
Keberanian. Itulah yang kerap diajarkan oleh Mada Azhari, pendiri sekaligus pemilik beberapa perusahaan. ”Saya sering menyarankan kaum muda untuk tidak takut terjun ke dunia bisnis. Pilihlah bisnis yang sesuai passion. Karena faktanya banyak pengusaha sukses yang lahir dari sana,” ujar Mada. Pria berusia 29 tahun ini tentu tidak asal bicara. Ia telah melewati beragam pengalaman bisnis dari yang manis hingga yang paling getir.
Ketika usaianya menginjak 24 tahun, misalnya, Mada ’dipaksa’ menerima tongkat estafet untuk melanjutkan bisnis percetakan yang telah dirintis orang tuanya. Sang ayah, meninggal secara mendadak karena sakit. Maka ia pun harus memikul tanggung jawab atas perusahaan yang sebenarnya sudah merangkak menjadi besar. Sebagai gambaran, dengan omzet mencapai ratusan juta, produknya sudah merambah ke berbagai negara. ”Salah satu produknya adalah stiker bir bintang yang sudah banyak dikenal masyarakat,” kata Mada sembari mengenang.
Namun semuanya berbalik. Keberhasilan yang telah dicapai dan dipupuk selama bertahun-tahun perlahan mulai surut. Mada yang selama ini hanya dilibatkan dalam urusan pemasaran, justru ditipu oleh orang kepercayaan ayahnya. Keterbatasan pengetahuan dalam hal produksi telah dimanfaatkan orang tersebut untuk membuat berbagai proyek fiktif yang merugikan perusahaan. Alhasil, kondisinya terus memburuk. Sampai akhirnya pada tahun 2004 perusahaan tersebut benar-benar bangkrut!
Beban hutang yang ditinggalkan sangat besar, bahkan mencapai ratusan juta. ”Bisa dibayangkan, saya yang masih berstatus mahasiswa harus menanggung kewajiban yang begitu besar. Saya banyak didatangi pihak bank, debt collector hingga para preman yang bertujuan menagih hutang. Benar-benar situasi yang tidak menyenangkan,” tutur Mada. Tapi ia tidak ingin lari dari tanggung jawab. Dengan modal keyakinan pelan-pelan hutang yang begitu besar akhirnya bisa dilunasi.
Itu bukan satu-satunya kisah sedih yang dialami Mada. Masih ada yang lain, tepatnya, ketika ia dan beberapa rekannya mengelola bisnis media dengan menerbitkan majalah Entrepreneur Indonesia (EI). Majalah tersebut awalnya hanya untuk konsumsi mahasiswa serta sebatas lingkungan kampus. Tapi lantaran penyajiannya yang menarik mampu membetot perhatian para pembaca umum.
Tapi apa yang terjadi kemudian? Keberhasilan EI ternyata mengusik media lain yang sudah ada sebelumnya. “Nama media tersebut ternyata sudah dimiliki oleh sebuah badan usaha di luar negeri. Majalah kami akhirnya disomasi. Tidak tanggung-tanggung, kami dituntut denda sebesar US$5 juta. Sebuah angka yang sepktakuler bagi kami para mahasiswa,” tandas alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) ini.
Setelah berkonsultasi dengan pihak-pihak yang mengerti masalah hukum, Mada menyadari pihaknya kecil kemungkinan untuk memenangkan gugatan tersebut. Selain faktor besarnya gugatan, kasus ini juga masuk dalam wilayah hukum internasional. Artinya persidangan akan dilangsungkan di luar negeri. Maka, tak ada jalan lain, ia dan tim EI memutuskan untuk mengistirahatkan majalah yang sempat menyentuh oplah 5 ribu tersebut. Padahal, seperti diceritakan, beberapa perusahaan besar telah menjalin kerjasama diantaranya, Bank Rakyat Indonesia, Medco Energy, Antam maupun PT. Telkom.
Matinya EI tidak lantas membunuh kreatifitas mereka. Apalagi jejaring yang terbangun sudah sedemikian luas dan bisa menjadi modal penting dalam merancang kembali bisnis sejenis. “Saya sempat vakum beberapa waktu. Sampai akhirnya saya dan rekan-rekan tadi mencoba mendirikan perusahaan Media Citra. Sesuai namanya, kita ingin memberi kontribusi bagi sejumlah korporasi agar citranya kian positif. Bentuknya berupa media internal,” kata pria kelahiran 10 November 1980 ini.
Konsep media internal yang ditawarkan rupanya menarik minat korporasi besar seperti Bakrie. Mereka adalah klien pertama yang menggunakan jasa Media Citra dan berlanjut hingga sekarang. Selanjutnya, sejumlah klien lain mulai bergabung antara lain Arutmin, Bumida, Medco, dan lain-lain. Seiring meningkatnya kinerja dan pamor Media Citra, maka mulai banyak investor yang tertarik meminangnya. Ibarat kembang, Media Citra dikerubuti banyak kumbang.
Kondisi demikian sudah pasti memberikan kebanggan bagi para pendiri, termasuk Mada. Kendati begitu, mereka menyadari akan dampak dari perubahan yang terjadi. “Dengan masuknya beberapa invetor maka saham kami menjadi minoritas. Tapi kami puas bisa membesarkan perusahaan tersebut,” kata Mada yang kini menjabat sebagai salah satu komisaris ini.
Kreativitas Mada tidak lantas mandek sampai disitu. Ia kemudian merancang untuk membesut perusahaan lain. Maka lahirlah Inventco Netmedia. Sebuah internet marketing company yang membantu mengarahkan agar sebuah web bisa dikunjungi ribuan traffic setiap harinya. Namun strategi komunikasi pemasarannya ditentukan berdasarkan target audience. Dengan menentukan keyword secara tepat secara geo targeting maka akan diperoleh hasil yang efektif. “Jadi ada semacam online campaign,” tandas Mada yang menjabat CEO Inventco Netmedia ini.
Responnya cukup besar kendati ia menyadari bahyak perusahaan di Indonesia yang belum aware terhadap internet. “Untuk CEO yang usianya di bawah 35 tahun, atau General Manager yang berusia antara 20-30 tahun biasanya gampang menangkap gagasan perusahaan kita. Tapi kalau usianya di atas 50 tahun agak repot karena urusannya diserahkan ke anak buah,” ujarnya sedikit mengilustrasikan. Meski terbilang sulit, toh beberapa perusahaan besar sudah memutuskan menjadi kliennya. Sebut saja, Padang Digital, Tropicom Utama Furniture, Sampoerna A Mild, Bakrie telecom serta beberapa lainnya.
Tidak puas hanya mengelola Inventco, Mada juga dipercaya mengelola versi online PassionMagz.com. Menurut pria yang menjabat Chief Editior ini, awalnya memang berbentuk majalah yang dikelola oleh sebuah agency. Tapi Januar Darmawan, sang pemilik, memutuskan untuk menutup majalah tersebut dan mengganti menjadi online.
Jika dicermati hampir sebagian besar bidang yang digeluti Mada selalu berkutat dengan media, khususnya online. “Passion saya memang di online,” tegasnya. Lantas apa yang ingin dicapai. “Tergetnya tidak terlalu muluk. Saya hanya berharap Inventco bisa menjadi perusahaan internet marketing terbesar yang bakal diperhitungkan,” pungkas Mada yang juga menjadi mengelola online lintasalumni.com tersebut.
disadur dan edit dari www.majalahpengusaha.com
