<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Peluang Bisnis dan Info Franchise &#187; Cerita Sukses</title>
	<atom:link href="http://www.groovylegacy.com/category/just_curious/cerita-sukses/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.groovylegacy.com</link>
	<description>Bacaan untuk Mengasah, Memperdalam  Pengetahuan Bisnis Anda</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Feb 2012 14:14:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>A Story about being Niche</title>
		<link>http://www.groovylegacy.com/2012/01/niche-market-rahasia-drop-shipping/</link>
		<comments>http://www.groovylegacy.com/2012/01/niche-market-rahasia-drop-shipping/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2012 13:07:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[drop shipping]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.groovylegacy.com/?p=572</guid>
		<description><![CDATA[Jennifer tertarik dalam penjualan online beberapa perjalanan aksesoris di website barunya. Dia menelepon saya suatu hari tentang mendapatkan grosir pemasok elektronik mug perjalanan termal. Ini adalah mug dimana Anda bisa plug ke pemantik rokok mobil, dan itu membuat kopi hangat. Dia memutuskan untuk menjual mug tanpa banyak berpikir tentang bagaimana memasarkan benda tsb pada sebuah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">Jennifer tertarik dalam penjualan online beberapa<br />
perjalanan aksesoris di website barunya. Dia menelepon saya suatu hari tentang mendapatkan<br />
grosir pemasok elektronik mug perjalanan termal. Ini adalah mug dimana Anda<br />
bisa plug ke pemantik rokok mobil, dan itu membuat kopi hangat. Dia<br />
memutuskan untuk menjual mug tanpa banyak berpikir tentang bagaimana memasarkan<br />
benda tsb pada sebuah situs web. Dia memiliki website selama sekitar empat bulan<br />
tanpa penjualan. Dia telah melihat cangkir yang sama persis yang dijualnya di salah satu<br />
toko besar dengan harga lebih murah dari daftar harga diiklankan nya. Sebagai hasilnya, dia<br />
menyingkirkan produk dari situs nya karena sulit untuk mengalahkan<br />
harga toko besar. <span id="more-572"></span></p>
<p style="text-align: left;">Dia menerima email sekitar seminggu kemudian dari<br />
perusahaan di Eropa tertarik membeli mug untuk kampanye promosi mereka . Mereka ingin mug sebanyak 125.000. Jennifer sangat bersemangat . Setelah pertukaran email lebih lanjut, ia mengetahui  mug tidak akan diperlukan selama sembilan bulan. Hal ini akan memberikan banyak Jennifer waktu untuk membuat<br />
pengaturan dan bekerja melalui hal pembayaran dan pengiriman dengan<br />
mereka. Setelah pertukaran email lebih lagi mereka meminta Logoperusahaan mereka<br />
dicetak di samping mug. Ini membuat Jennifer tidak semangat karena masalah ini rumit. Kemudian email lain datang ,para pelanggan telah menunjukkan mereka telah memeriksa  tiga toko online lainnya dan<br />
bisa mendapatkan mug ,lebih murah  satu dolar dari mug Jeniifer. Meskipun ia bekerja dengan yang sebenarnya<br />
gudang distributor impor grosir di AS, biaya nya tidak cukup rendah.<br />
Biaya Jeniifer sekitar lima puluh sen lebih tinggi karena pengiriman dan kemasan dari<br />
pemasok grosir. Cangkir yang diproduksi di China.</p>
<p style="text-align: left;">
Pabrik  China tidak akan melakukan pencetakan logo. Kesepakatan itu mulai terlihat kurang menarik  karena persaingan harga .Dia membutuhkan perbedaan dengan 3 toko online tersebut. Dia bertanya kepada pembeli jika harga yang mereka telah dikutip dari perusahaan lain apakah sudah  termasuk cetak logo. Pada gilirannya, mereka mengatakan tidak seorang pun menawarkan pencetakan. Pembeli mengatakan bahwa mereka serius dengan Logo dicetak. Jennifer kini menemukan sebuah ceruk dalam industri cangkir elektronik termal. Tidak ada yang menawarkan mug termal elektronik dengan<br />
logo perusahaan. Dia memeriksa sekitar pada harga pencetakan mug dan<br />
pengemasan ulang. Biaya extra untuk cetak logo $1.25. Karena tidak ada pesaing<br />
bersedia melakukan pencetakan, dia akan menjadi mengutip hanya dengan gelas penuh dicetak.<br />
Dia sekarang memiliki lebih dari sekedar harga sebuah cangkir. Dia kini mengetahui harga<br />
biaya mug, tinta, konfigurasi cetak, perekat, karya seni, inspeksi,<br />
kemasan, tenaga kerja, dan pengiriman . Jadi dia  menghitung biaya per mug setelah membagi total biaya dengan jumlah mug.</p>
<p>Pembeli punya budget dak lebih dari tujuh dolar per cangkir. Modal mug Jennifer<br />
cangkir sekitar enam dolar dan lima puluh sen.  Dia mengatakan kepada pembeli, &#8220;Jika Anda<br />
membeli mug dari perusahaan saya dengan logo dicetak, harga dari cangkir akan<br />
naik sekitar dua puluh sen . Pembeli  terpaku pada harga yang diberikan Jennifer, karena<br />
mug nya yang empat kali lebih rendah dari orang lain. Tidak ada yang akan bisa menyaingi<br />
harga mug nya.</p>
<p style="text-align: left;">
Ini sebuah cerita tentang kekuatan sebuah <strong>niche</strong>. (kutipan cerita Brad Beiermann, Ph. D)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.groovylegacy.com/2012/01/niche-market-rahasia-drop-shipping/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ekspansi Bisnis Kino Corporation</title>
		<link>http://www.groovylegacy.com/2011/08/ekspansi-bisnis-kino-corporation/</link>
		<comments>http://www.groovylegacy.com/2011/08/ekspansi-bisnis-kino-corporation/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Aug 2011 08:58:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[Info Pasar]]></category>
		<category><![CDATA[distributor]]></category>
		<category><![CDATA[Produsen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.groovylegacy.com/?p=521</guid>
		<description><![CDATA[Harry Sanusi, lulusan Fakultas Farmasi Universitas Pancasila ini awalnya ingin menjadi apoteker, tetapi sang ayah berpikir lain, dan ingin menjadi distributor larutan penyegar Cap Kaki Tiga produksi PT. Sinde Budi Sentosa, yang pada saat itu, pemilik Sinde Budi masih teman ayah Harry. Lalu dengan modal Rp 300 juta dengan mendirikan distributor dengan PT. Duta Lestari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Harry Sanusi, lulusan Fakultas Farmasi Universitas Pancasila ini awalnya ingin menjadi apoteker, tetapi sang ayah berpikir lain, dan ingin menjadi distributor larutan penyegar Cap Kaki Tiga produksi PT. Sinde Budi Sentosa, yang pada saat itu, pemilik Sinde Budi masih teman ayah Harry. Lalu dengan modal Rp 300 juta dengan mendirikan distributor dengan PT. Duta Lestari Sentratama di tahun 1991. Pilihan tepat, karena hampir 70% produk Sinde Budi dipasarkan Duta Lestari.</p>
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 114px"><img src="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQ7FEh8FToRB3rAmC2ai8tlQwUulsgQUYM85s8X71OL6UoQz3hFRPHEQlI" alt="" width="104" height="104" />
<p class="wp-caption-text">Kino Corp</p>
</div>
<p>Naluri bisnis Harry menginginkan lain, ia ingin menyalurkan produk lain, namun Sinde Budi tidak setuju, sehingga diputus kontrak oleh Sinde Budi di tahun 1997. Otomatis kinerja Duta Lestari langsung jatuh. Kontribusi produk distribusi lain tidak cukup bagi perusahaan. Untunglah sebelum krisis moneter, piutang cukup lancar. Berbekal simpanan cukup besar, Harry menukar uang rupiah ke dollar AS, dan mendapatkan untung banyak di kemudian hari, Dari modal ini, Harry bikin pabrik permen Kino di tahun 1998.</p>
<p>Kino seolah mendapat durian runtuh karena kisruh ributan merk Cap Kaki Tiga yang belum tuntas antara Sinde Budi dengan Wen Ken Drug Pte Ltd. Produsen minuman herbal dan obat obatan asal Singapura ini akhirnya menunjuk Kino sebagai produsen dan pemegang lisensi baru produk penyegar Cap Kaki Tiga.<span id="more-521"></span></p>
<p>Cap Kaki Tiga tidak bermain sendiri, masih ada PT Sari Enesis Indah (Adem Sari) dan Sinde Budi (Cap Badak) yang masih penguasa pasar, Dengan prediksi Harry, nilai pasar minuman penyegar bisa mencapai Rp 1,5 T per tahun, Kini kini membangun pabrik senilai Rp 45 M di Cikande, Serang.</p>
<p>Adapun alasan Weng Ken menunjuk kino sebagai pemegang lisensi Cap Kaki Tiga, karena Kino sudah punya pengalaman di bisnis minuman siap konsumsi seperti minuman energi Panther. Dimana Kino telah membeli Panther dari PT Tunas baru Lampung, produsen tepung beras putih merk Rose Brand, enam tahun lalu.</p>
<p>Selain minuman berenergi, Kino juga sudah punya minuman herbal seperti liang teh Cap Panda, yang saat ini bersaing ketat dengan produk Sinde Budi yaitu liang teh Cap Pistol.</p>
<p>Karena ingin pasar yang besar, Kino tidak ragu-ragu untuk bersaing dengan pemain besar. Contohnya permen Kino vs Kopiko buatan PT Mayora Indah, minuman serbuk Segar Sari vs Nutrisari (Nutrifood) &amp; Jas Jus (Wing). Strategi yang digunakan mengahadapi pemain besar adalah dengan promosi, dimana setiap tahun Kino tidak kurang menganggarkan dana promosi dan iklan sebesar Rp 100 M.</p>
<p>disadur dan edit dari Kontan edisi 22-28 Agustus 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.groovylegacy.com/2011/08/ekspansi-bisnis-kino-corporation/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketut Widana dan &#8220;Magic Chocolate&#8221;</title>
		<link>http://www.groovylegacy.com/2011/03/ketut-widana-dan-magic-chocolate/</link>
		<comments>http://www.groovylegacy.com/2011/03/ketut-widana-dan-magic-chocolate/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Mar 2011 03:48:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[profil sukses]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.groovylegacy.com/?p=431</guid>
		<description><![CDATA[Sebagian orang yang pernah menikmati Magic Chocolate tak pernah menyangka jika Ketut Widana (43), lelaki asli Kabupaten Klungkung, Bali, ini merupakan pemiliknya. Siapa sangka pula usaha menengah ini sukses menembus pasaran mancanegara, seperti Eropa dari cokelat olahannya bersama istri serta belasan karyawan di rumahnya, Batubulan, Kabupaten Gianyar. Kini, omzetnya bisa puluhan juta rupiah setiap bulan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagian orang yang pernah menikmati Magic Chocolate tak pernah menyangka jika Ketut Widana (43), lelaki asli Kabupaten Klungkung, Bali, ini merupakan pemiliknya. Siapa sangka pula usaha menengah ini sukses menembus pasaran mancanegara, seperti Eropa dari cokelat olahannya bersama istri serta belasan karyawan di rumahnya, Batubulan, Kabupaten Gianyar. Kini, omzetnya bisa puluhan juta rupiah setiap bulan.</p>
<p>Padahal, ia lulusan sarjana pendidikan bahasa Inggris Universitas Ganesha (dulu IKIP) Singaraja, yang pernah mengenyam menjadi guru SMP Negeri 2 Singaraja selama dua tahun. Bahkan, tak puas dengan birokrasi sebagai guru, ia pun banting setir menjadi pemandu wisata mulai 1992 sampai lebih dari 10 tahun lamanya.</p>
<p>Namun, ia ingin berubah seperti ia rela melepaskan status pegawai negeri sipilnya demi mengejar kesuksesan lain. Ayah tiga anak ini pun memberanikan diri merintis berdagang bakso sambil perlahan melepas menjadi pemandu wisata. ”Ya, sebenarnya lumayan sudah penghasilan menjadi pemandu wisata ini karena saya dipercaya beberapa agen di sini (Bali). Tetapi, saya merasa belum stabil dan hidup saya tidak dinamis. Saya pun bertekad mencari yang terbaik dan istri saya mendukung itu,” katanya, serius ketika ditemui di rumahnya, pertengahan Februari lalu.</p>
<p>Menjadi pengusaha sukses memang tidak mudah dan itu disadari betul oleh seorang Widana. Meski memiliki bakat alami untuk berwirausaha dari orang tuanya yang berdagang makanan, ia tetap perlu menambah ilmu dari siapa pun. Termasuk belajar dari kegagalan!<span id="more-431"></span></p>
<p>Ya, ia gagal berjualan bakso yang hanya bertahan tujuh bulan. Selanjutnya, suami Putu Rien Utami (40) ini berganti dengan usaha budidaya lobster. Hasilnya? Lumayan karena bisa bertahan setahun daripada berjualan bakso. Sayangnya, ia belum puas dengan keberhasilan dari lobster itu.</p>
<p>Tanpa sengaja ia berkenalan dengan teman koki dari hotel ternama di ”Pulau Dewata” Bali. Pertemuan di salah satu kursus wirausaha itu pun membawa keberuntungan bagi Widana. Lalu, tanpa dinyana, ajakan membuat permen cokelat berkualitas dengan harga terjangkau tanpa membuahkan rasa batuk penikmatnya pun ia sanggupi.</p>
<p><strong>Modal Rp 10 juta</strong></p>
<p>Tanpa pikir panjang, ia menghabiskan modal awal sekitar Rp 10 juta. Ya, ia tidak ingin sembarangan lagi setiap kali menekuni usaha sehingga ia pun menginginkan bahan baku cokelat terbaik dan berkualitas.</p>
<p>”Ya, saya ingin membuat permen cokelat terbaik yang tidak menyebabkan sakit tenggorokan atau kehausan sampai-sampai merusak gigi. Saya ingat betul, seorang dokter gigi yang pernah saya datangi selalu mengingatkan pasiennya dengan menempelkan selembar tulisan yang berisikan peringatan agar tidak mengonsumsi cokelat karena merusak gigi,” tuturnya sambil beberapa kali mengerutkan dahi.</p>
<p>Mulailah pada Februari 2007, ia bersama temannya itu membuat sendiri permen cokelat dengan bentuk mungil dan sederhana seperti bentuk hati dengan diberi pegangan sebanyak 500 buah. Mereka pun mengawalinya dengan menitipkan hasil olahannya ke beberapa toko di Gianyar dan Denpasar.</p>
<p>Tetapi, jangan salah, Widana pun tak segan-segan menerima dan mengantarkan pesanan permen cokelat itu ke rumah pemesan. Bahkan, ia pun punya pengalaman menarik dengan mengantar permen cokelat berbentuk hati ke sekolah sang pemesan. ”Bayangkan, ternyata, permen cokelat pesanan yang saat itu harganya tidak lebih dari Rp 10.000 itu saya antar dan dipakai untuk menyatakan cinta kepada perempuan incaran hatinya. Sekarang jika saya mengingatnya, saya tertawa sendiri,” ujarnya sambil tertawa.</p>
<p>Rasa olahan permen cokelat Widana yang berbanderol Magic Chocolate ini pun berkembang dari cokelat murni, cokelat bercampur mete, cokelat kismis, sampai cokelat berduet dengan kemiri. Hmmm&#8230; rasanya memang tak kalah nikmat dengan cokelat buatan luar negeri.</p>
<p>Soal kemasan, ia bisa dikatakan menjadi salah satu pemimpin dari kemasan produk lain, termasuk dari luar negeri. Magic Chocolate produksi UD Utami ini mudah dicari karena memiliki ciri khas di pembungkusnya yang memasang foto-foto budaya dan seni Pulau Dewata, antara lain tarian barong, pendet, baju adat, lokasi obyek wisata. Satu lagi, kalau membeli jangan lupa membalik kotaknya. Mengapa? Foto yang terpajang di depan kemasan terdapat penjelasannya di balik kemasannya.</p>
<p>”Kemasan ini pun menginspirasi saya mengapa tidak sekaligus mempromosikan pariwisata Bali. Saya memiliki kemampuan berbahasa asing dan memiliki pengalaman menjadi pemandu wisata. Informasi pariwisata itu dibutuhkan di mana saja dalam kesempatan apa saja. Jadi, kemasan pun bisa menjadi media bagus untuk promosi tanah kelahiran saya. Nah, jadilah seperti sekarang ini dengan jumlah sekitar 30 desain kemasan untuk 30 rasa berbeda,” jelasnya antusias.</p>
<p>Berbicara mengenai harga, Widana belum mau menjualnya sama dengan produk cokelat asing. Meskipun rasa dan kualitasnya tidak kalah bersaing. Harganya bervariasi sesuai rasanya dan ukuran kotak mulai dari Rp 5.000 per biji hingga sekitar Rp 400.000 per kotak. Alasannya, ia masih dalam tahap mengenalkan produk cokelatnya yang sekarang baru berusia empat tahun.</p>
<p>Menurut dia, harga yang murah tidak selalu mencerminkan produk itu murahan. Baginya, kepuasan pelanggannya dan mampu terus menggaji karyawannya, itu sudah kelegaan. Artinya, usahanya berjalan lancar dan laku. Tujuannya, siapa pun yang mencicipi cokelatnya bisa terkejut dan mengatakan, rasanya memang magic di mulut. Itu dulu terwujud.</p>
<p>Magic Chocolate bisa unjuk gigi dengan berproduksi lebih dari 30.000 kotak per bulan. Tetapi, inovasi rasa bagi Widana tak kan pernah ada akhirnya. Cita-citanya pun ingin memiliki pabrik cokelat yang semuanya bahan baku dari Pulau Dewata kelahirannya. Oleh karena itu, ia pun memotivasi dirinya dengan tak segan mengatakan ini cokelat asli, asli Bali, Bli!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>disadur dari www.kompas.com</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.groovylegacy.com/2011/03/ketut-widana-dan-magic-chocolate/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nasi Jinggo Khas Bali</title>
		<link>http://www.groovylegacy.com/2010/10/nasi-jinggo-khas-bali/</link>
		<comments>http://www.groovylegacy.com/2010/10/nasi-jinggo-khas-bali/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Oct 2010 09:42:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[khas bali]]></category>
		<category><![CDATA[kuliner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.groovylegacy.com/?p=371</guid>
		<description><![CDATA[Nasi jinggo ini buatan Nyoman Ardana (50) dan istrinya, Wayan Indrawati (39), di mana sekepal nasi dibungkus daun pisang, diberi lauk mi goreng, serundeng, potongan tempe, potongan ayam pedas manis, dan sambal. Nah, sambal ini yang terus dipertahankan meski harga cabai melambung, seperti pada bulan Juli lalu, sebab pelanggan tak menghendaki rasa pedasnya yang pas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nasi jinggo ini buatan Nyoman Ardana (50) dan istrinya, Wayan Indrawati (39), di mana sekepal nasi dibungkus daun pisang, diberi lauk mi goreng, serundeng, potongan tempe, potongan ayam pedas manis, dan sambal.</p>
<p>Nah, sambal ini yang terus dipertahankan meski harga cabai melambung, seperti pada bulan Juli lalu, sebab pelanggan tak menghendaki rasa pedasnya yang pas itu berubah. Gara-gara sambal pula rata-rata pelanggan makan minimal dua bungkus.</p>
<p>Tak hanya menjaga rasa, suami-istri ini pun menjaga kebersihan dapurnya. Menengok dapurnya di Gang Mertajaya, Jalan Gunung Agung, Denpasar, mulai panci atau wajan penggorengan, alat-alat lainnya, hingga lantainya bersih. Menurut mereka, kebersihan salah satu kunci keberhasilan dan kepercayaan pelanggan.</p>
<p>Alasannya, terkadang pelanggan datang melihat dapur pembuatannya. Jika kotor, pelanggan otomatis tak nyaman lagi menyantap nasi jinggonya. Mereka dibantu beberapa karyawan yang mulai memasak sejak pagi dan membungkus siang hari menjelang sore. Meski dibungkus pada siang hari, seluruh nasi tidak basi disantap pada malam harinya hingga esok hari. Nasi ini yang dikirim dengan pesawat masih bisa disantap oleh para pelanggan di Bandung.<span id="more-371"></span></p>
<p>Rahasianya, harus menggunakan bahan berkualitas nomor satu dalam memanjakan lidah pelanggannya hingga cara memasaknya. Bumbu-bumbunya berkualitas, termasuk daun pisang pembungkusnya pun tak sembarangan. Semuanya dipesan khusus. Uniknya, bungkusan nasi jinggo mirip topi.</p>
<p>Berawal dari coba-coba menjual puluhan nasi bungkus, sekitar 20 tahun lalu dengan harga Rp 50 per bungkus, kini mereka mengantongi pendapatannya bisa lebih dari Rp 10 juta per bulan dengan pesanan yang tidak hanya di Bali, tetapi sampai ke Bandung. Jika di Bali harga nasi jinggo per bungkus dijual pedagang mulai Rp 2.000 sampai Rp 4.000, di Bandung bisa dijual mulai dari Rp 5.000 per bungkus. Ardana mengaku hanya mengambil Rp 2.000 untuk satu bungkusnya, berapa pun harga yang dijual pedagang.</p>
<p>Nama jinggo yang kini melekat dengan nasi bungkus masakan Ardana dan istrinya ini justru berasal dari masyarakat karena mereka tidak pernah melabeli nasinya.</p>
<p>Ardana dan keluarga tak terbayang, nasi jinggo bakal terkenal dan menjadi ikon pariwisata Pulau Dewata. Banyak kaus oleh-oleh Bali pun menyablon gambar nasi jinggo.</p>
<p>Menjelang malam, Ardana dengan sepeda motor mengedarkan sendiri sejumlah keranjang berisi 500 bungkus per keranjang ini kepada pedagang. Keuntungan yang diraupnya setiap malam minimal berasal dari 2.000 bungkus yang dititipkan di beberapa pedagang kaki lima untuk para pelanggan setia.</p>
<p>Pedagang kaki lima ini khusus berjualan nasi jinggo yang biasanya dipadu dengan keripik kulit ayam, usus ayam goreng, atau kerupuk. Hanya saja, peredaran nasi jinggo milik Ardana di Bali masih sekitar Denpasar. Mendapatkan nasi jinggo bersemat merah muda, pembaca bisa mencari di Jalan Gajah Mada dan Jalan Setiabudi.</p>
<p>Memasuki tengah malam setiap harinya, ratusan nasi jinggo Ardana biasanya sudah ludes. Jika malam minggu tiba, ia bisa membungkus hingga lebih dari 3.000 bungkus. Bapak tiga anak ini pun bisa mengirim kembali menjelang tengah malam.</p>
<p>Ardana mengaku, pada mulanya dia meminjam modal awal dari orangtuanya. Maklum, ia belum punya pekerjaan tetap untuk menghidupi keluarga. Pilihan pada bisnis makanan ini pun karena suami-istri ini punya hobi makan.</p>
<p>Sekarang ia lega, pilihannya meminjam uang dan memilih bisnis makanan tidak salah. Pendapatannya cukup untuk membeli rumah dan mobil. Kesuksesannya mengelola nasi jinggo pun mengantarkan anaknya bisa kuliah.</p>
<p>Karena sangat menghargai pelanggan, mereka menolak pesanan dadakan. Jika ingin pesan, mereka meminta untuk datang beberapa hari sebelumnya. Beberapa tahun terakhir, nasi jinggo makin populer di kalangan wisatawan mancanegara ataupun lokal. Katanya, tidak lengkap ke Bali jika belum menyempatkan diri untuk menyantap nasi jinggo. Sayangnya, nasi jinggo yang asli pertama buatan Ardana pun semakin banyak tiruannya dengan lauk dan rasa yang berbeda.</p>
<p>Biar calon pelanggan tidak salah membeli nasi jinggo asli dan palsu saat di Bali, cermati saja sematnya (lidi atau bambu pengunci daun) yang ada dipembungkus nasi jinggo. Jika ada semat berwarna merah, itu adalah nasi jinggo asli buatan Ardana. Sementara nasi jinggo yang mulai dijual di berbagai pinggiran jalan Pulau Dewata bersemat tanpa warna merah dan ini palsu.</p>
<p>disadur dan edit dari <strong>www.kompas.com</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.groovylegacy.com/2010/10/nasi-jinggo-khas-bali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Franchise Batagor Jepang Takashi Mura</title>
		<link>http://www.groovylegacy.com/2010/07/franchise-batagor-jepang-takashi-mura/</link>
		<comments>http://www.groovylegacy.com/2010/07/franchise-batagor-jepang-takashi-mura/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Jul 2010 08:33:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[Peluang Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Waralaba]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis makanan]]></category>
		<category><![CDATA[franchise]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.groovylegacy.com/?p=313</guid>
		<description><![CDATA[Tren jajanan lokal bernama batagor bermula dari Bandung, Jawa Barat. Sebenarnya, nama batagor ini merupakan akronim dari kata bakso tahu goreng. Wujud batagor memang tahu berbalut tepung lalu digoreng. Dari jajanan pinggir jalan, pamor batagor naik kelas. Jajanan ini tak lagi hanya ada di Kota Kembang melainkan melebar hingga luar kota. Batagor juga sudah ngetren [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tren jajanan lokal bernama batagor bermula dari Bandung, Jawa Barat. Sebenarnya, nama batagor ini merupakan akronim dari kata bakso tahu goreng. Wujud batagor memang tahu berbalut tepung lalu digoreng.</p>
<p>Dari jajanan pinggir jalan, pamor batagor naik kelas. Jajanan ini tak lagi hanya ada di Kota Kembang melainkan melebar hingga luar kota.</p>
<p>Batagor juga sudah ngetren di Malang, Jawa Timur. Ridwan Abadi adalah salah satu pelaku usaha kuliner yang menjual panganan ini. Bisnisnya berawal sejak tahun 2008, ketika ia mendirikan sebuah restoran bernama Dapur Unik. Restoran ini menjual aneka makanan dari berbagai daerah, termasuk batagor.<span id="more-313"></span></p>
<p>Dari Dapur Unik, bisnis Ridwan justru bergulir menjadi bisnis batagor yang dijual di atas gerobak dan <em>booth</em>. Namanya Batagor Jepang Takashi Mura (BJTM</p>
<p>Bukan tanpa alasan Ridwan mengusung nama BJTM. Panganan buatannya berbeda dengan batagor yang banyak di pasaran. Demi menghadirkan citarasa Jepang, dia menyuguhkan bakso dengan rasa ikan dan udang serta tahu katsu. Selain bakso dan udang, ada delapan jenis makanan lagi yang dia suguhkan. Untuk sausnya, dia menyajikan pilihan lain di luar saus kacang, yakni saus teriyaki dan saus mayones.</p>
<p>Harganya Rp 800 hingga Rp 2.000 per item makanan. Pembeli bisa memadupadankan seporsi batagor dengan jenis makanan lain.</p>
<p>Saat ini, Ridwan mempunyai tiga gerai di Malang. Setiap gerainya bisa menjual 600-1.000 item makanan sehari, dengan omzet Rp 18 juta per bulan per gerai.</p>
<p><strong>Royalty setelah BEP </strong></p>
<p>Berharap usahanya kian maju, Ridwan menawarkan konsep kemitraan sejak Februari tahun ini. Dia telah menggandeng 17 mitra, yang tersebar di Surabaya, Semarang, Salatiga, Ambarawa, Kudus, Demak, Tangerang, dan Depok</p>
<p>Ada tiga paket kemitraan BJTM, yakni Paket Gerobak dengan investasi awal Rp 25 juta, Paket Booth Rp 35 juta, dan Paket Indoor Rp 50 juta. Nilai tersebut sudah termasuk biaya jalinan kerjasama selama tiga tahun Rp 10 juta. Setelah tiga tahun, mitra bisa melanjutkan kerjasama dengan membayar Rp 10 juta.</p>
<p>Selama kerjasama, mitra harus membeli bahan baku dari pusat, seperti beragam makanan dan saus BJTM. Omzet Ridwan dari penjualan bahan baku ke mitra Rp 60 jutaRp 90 juta per bulan.</p>
<p>Syarat lainnya mengenai pungutan royalti. Ridwan bakal mengutip royalti sebesar 2,5 persen dari omzet per bulan para mitranya yang akan dipungut setelah BEP.</p>
<p><em><strong>Info Lebih Lanjut</strong></em></p>
<p>Kantor Pusat</p>
<p>Jl. Wadas 2A No. 11</p>
<p>Jatiwaringin – Pondok Gede. Bekasi – Indonesia</p>
<p>Hot Line : +62 85 64 64 800 88 / 085 72 69 535 98</p>
<p>Kantor Cabang</p>
<p>Griya shanta L126</p>
<p>Jl. Soekarno – Hatta. Malang – Indonesia</p>
<p>Hotline : +62 341 411 216</p>
<p>R : 230 15 15 237<br />
disadur dan edit dari <a href="http://www.kompas.com">www.kompas.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.groovylegacy.com/2010/07/franchise-batagor-jepang-takashi-mura/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Awal Bengkel Bubut, Kini omset Rp 2 M</title>
		<link>http://www.groovylegacy.com/2010/06/awal-bengkel-bubut-kini-omset-rp-2-m/</link>
		<comments>http://www.groovylegacy.com/2010/06/awal-bengkel-bubut-kini-omset-rp-2-m/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Jun 2010 05:06:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[bengkel]]></category>
		<category><![CDATA[otomotif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.groovylegacy.com/?p=281</guid>
		<description><![CDATA[Langgeng Lujito, 41, mencoba berwirausaha sejak usia muda. Kegigihan dan kerja kerasnya membuahkan hasil. Sebagai pengusaha bengkel bubut, dia kini memiliki ratusan pelanggan di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Kondisi ekonomi yang serba sulit membuat Langgeng Lujito bertekad mengubah nasib. Dia mulai merintis usaha dengan membuka toko oli pada 1989. Saat itu Langgeng Lujito masih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Langgeng Lujito, 41, mencoba berwirausaha sejak usia muda. Kegigihan dan kerja kerasnya membuahkan hasil. Sebagai pengusaha bengkel bubut, dia kini memiliki ratusan pelanggan di Jawa Timur dan Jawa Tengah.</p>
<p>Kondisi ekonomi yang serba sulit membuat Langgeng Lujito bertekad mengubah nasib. Dia mulai merintis usaha dengan membuka toko oli pada 1989. Saat itu Langgeng Lujito masih duduk di kelas dua SMA PGRI Ngawi, Jawa Timur.</p>
<p>Pada saat teman-temannya masih asyik bermain seusai pulang sekolah, Langgeng justru sibuk mengelola bisnis. Lambat laun usaha yang digelutinya berkembang. Namun, persaingan usaha oli di Ngawi saat itu sudah sangat ketat. Sambil terus menjalankan bisnis oli, dia berpikir untuk mengembangkan usaha lain.<span id="more-281"></span></p>
<p>Seusai lulus dari SMA PGRI Ngawi, Langgeng bukannya melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, melainkan malah serius menekuni usaha. Tekadnya sudah bulat. Dia ingin memiliki usaha sendiri.</p>
<p>Dia merasakan banyak pelajaran yang bisa dipetik dari menekuni usaha mandiri. Langgeng mulai berpikir untuk menaikkan kelas usahanya. Pada 1993,berbekal tabungan dari usahanya,dia membuka usaha bengkel bubut di Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Beran, Kota Ngawi.</p>
<p>Letak usaha bengkel itu sangat strategis lantaran berada di jalan utama penghubung Ngawi-Solo.Kala itu dia berpikir, usaha bengkel yang khusus melayani jasa bubut automotif belum ada di Ngawi.</p>
<p>Sebagai modal awal, dia membeli satu mesin bubut kecil, satu mesin kolter untuk sepeda motor, dan peralatan las. Modal yang dikeluarkan sekira Rp20 juta. Selain itu, dia juga merekrut teknisi yang mengerti tentang mesin mobil,sepeda motor, sekaligus bisa mengoperasikan mesin bubut dan mesin kolter.</p>
<p>Ketika itu, usaha bengkelnya masih sederhana dan sangat terbatas. Langgeng mengaku awalnya tidak menguasai soal bongkar pasang mesin sepeda motor atau mobil. Tapi, tekadnya saat itu sangat kuat, ingin menekuni usaha sambil belajar.</p>
<p>“Meski saya yang memiliki bengkel, tapi saya saat itu tak segan untuk belajar bongkar pasang mesin sepeda motor atau mobil. Prinsip saya, kalau mau belajar, akan bisa. Kemampuan itu bisa diasah asalkan mau belajar,” ujarnya.</p>
<p>Seperti lazimnya membuka usaha baru, tahap-tahap awal selalu menemui banyak kendala. Belum banyak yang mengenal usahanya. Namun, Langgeng pantang menyerah. Dia lantas berpromosi dan berupaya mengenalkan usaha bengkel bubut automotif ke sejumlah bengkel sepeda motor dan mobil di Ngawi. Upayanya ternyata berhasil.</p>
<p>Dalam hitungan enam bulan, banyak pelanggan yang mulai berdatangan ke usaha bengkel bubut miliknya. Bukan hanya dari Ngawi, melainkan juga dari Madiun, Bojonegoro, Cepu, Sragen, Nganjuk, Kediri, dan beberapa daerah lain.</p>
<p>Dia juga terus menambah pekerjanya dari semula hanya empat orang menjadi 24 orang. Selain tenaga teknisi, usaha bengkel bubut milik Langgeng Lujito juga sering digunakan untuk latihan kerja bagi para siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), terutama jurusan perbengkelan.</p>
<p>SMK Sragen, SMK Geneng, SMK PGRI Ngawi, bahkan hampir setiap tahun mengirimkan siswa untuk belajar dan mendapatkan keterampilan perbengkelan di bengkel bubut Langgeng tersebut.</p>
<p>“Kalau sudah bisa dan terampil, saya persilakan mereka membuka usaha bengkel sendiri. Saya senang kalau ada anak didik saya berhasil membuka usaha sendiri. Mereka menjadi mandiri dan tidak bergantung pada orang lain,” ujar Langgeng.</p>
<p>Namun, menjalani usaha terutama di bidang jasa bengkel bubut juga ada pasang surutnya.Apalagi, pada 2000 ke atas, usaha bengkel yang menyediakan jasa bubut automotif mulai merebak di Ngawi. Langgeng Lujito melihat kenyataan itu sebagai hal wajar seiring pesatnya perkembangan automotif.</p>
<p>Langgeng Lujito terus berinovasi agar tetap bisa eksis di dunia usaha jasa automotif. Setelah melalui perhitungan yang cermat, pada 2005, Langgeng membuka toko suku cadang sepeda motor dan mobil.</p>
<p>Untuk menambah modal, dia meminjam dana dari Bank Tabungan Negara (Bank BTN) Kantor Cabang Madiun sebesar Rp500 juta. Pinjaman modal itu sangat membantu usaha toko suku cadang yang juga diberi nama Langgeng tersebut.</p>
<p>Dalam perjalanannya, usaha bengkel bubut automotif yang kemudian dilengkapi usaha suku cadang semakin berkibar. Kini dia setidaknya memiliki 400 pelanggan jaringan bengkel yang ada di Jatim dan Jateng.</p>
<p>Selain itu, dia juga memiliki pelanggan setia yang tersebar di Ngawi dan Madiun. “Prinsip saya dalam menekuni usaha ini adalah berusaha memberikan yang terbaik pada pelanggan. Kalau ada pelanggan yang merasa tidak puas,saya akan mencoba memahami dan memberi pelayanan lebih lagi,” ujar Langgeng yang kini telah dikaruniai tiga anak dari pernikahannya dengan Darwati, 39, tersebut.</p>
<p>Kemampuan Langgeng Lujito mengelola dan mengembangkan usaha kian terasah dan teruji. Boleh dibilang, usaha bengkel bubut automotif dan suku cadang miliknya kini sudah mapan. Dia memiliki dua mobil operasional. Asetnya telah berkembang menjadi lebih dari Rp2 miliar. Adapun omzet per bulan rata-rata mencapai Rp50 juta.</p>
<p>Namun, cita-cita Langgeng Lujito tidak berhenti hanya di sini. Dia ingin keberhasilan yang telah direngkuh selama ini juga bisa dirasakan oleh generasi muda. Ke depan Langgeng Lujito berkeinginan membuka balai latihan kerja di Ngawi demi mendidik anak-anak muda hingga memiliki ketrampilan perbengkelan disini.</p>
<p>disadur dari www.okezone.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.groovylegacy.com/2010/06/awal-bengkel-bubut-kini-omset-rp-2-m/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pecel Lele Omset Miliaran</title>
		<link>http://www.groovylegacy.com/2010/06/pecel-lele-omset-miliaran/</link>
		<comments>http://www.groovylegacy.com/2010/06/pecel-lele-omset-miliaran/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Jun 2010 12:24:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis makanan]]></category>
		<category><![CDATA[kisah sukses]]></category>
		<category><![CDATA[resto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.groovylegacy.com/?p=275</guid>
		<description><![CDATA[Di PHK tahun 2006, Rangga Umara yang kreatif dan inovatif mengembangkan bisnis Restoran dengan menu utama adalah Pecel Lele. Dengan modal awal Rp 3 juta dan bekerja sama dengan warung makan di daerah Kalimalang, Jakarta Timur, dimulai lah bisnis nya. Agar produknya lebih dikenal konsumen, ia melakukan berbagai macam promosi, dan juga mengubah bentuk lele [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di PHK tahun 2006, Rangga Umara yang kreatif dan inovatif mengembangkan bisnis Restoran dengan menu utama adalah Pecel Lele. Dengan modal awal Rp 3 juta dan bekerja sama dengan warung makan di daerah Kalimalang, Jakarta Timur, dimulai lah bisnis nya.</p>
<p>Agar produknya lebih dikenal konsumen, ia melakukan berbagai macam promosi, dan juga mengubah bentuk lele yang tampak seram menjadi enak dipandang sehingga merubah image dari makanan rakyat menjadi makanan modern. Salah satu menu yang ditawarkan adalah Lele di fillet (di pisah daging dan tulang).<span id="more-275"></span></p>
<p>Promosi yang nyeleneh dilakukan adalah memfoto tamu restoran , lalu fotonya dipajang di restoran, sehingga tamu merasa disanjung di restoran ini. Tamu menjadi artis, itulah kesan yang diterima.</p>
<p>Telah ada 21 cabang di Jabodetabek, dan akan terus menjangakau Bali, Medan, dan Surabaya. Omset total ke-21 cabang adalah Rp 1,2 M, dengan memproduksi 5-6 kuintal daging lele.</p>
<p>Luar biasa bukan ide kreatif dan keberanian Rangga? Bagaimana dengan Anda ? Berani melangkah dan berkreasi ?</p>
<p><strong>Hingga saat ini, pecel lela belum di waralaba kan</strong>.</p>
<h5></h5>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.groovylegacy.com/2010/06/pecel-lele-omset-miliaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>52</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membangun Showroom Mobil Bermodal Zero</title>
		<link>http://www.groovylegacy.com/2010/04/membangun-showroom-mobil-bermodal-zero/</link>
		<comments>http://www.groovylegacy.com/2010/04/membangun-showroom-mobil-bermodal-zero/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Apr 2010 11:04:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[Just Curious]]></category>
		<category><![CDATA[otomotif]]></category>
		<category><![CDATA[showroom]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.groovylegacy.com/?p=211</guid>
		<description><![CDATA[Dua kali mengalami kebangkrutan membuat Olivia harus menerima kenyataan pahit: kehilangan harta benda dan orang yang dicintainya. Tapi ia kini mampu bangkit dan membangun kembali usahanya yakni showroom mobil yang sukses dikembangkan lewat sistem waralaba. Menjadi seorang entrepreneur harus menyimpan nyawa cadangan.Bagitu joke yang sering dilontarkan oleh orang-orang yang terlebih dulu memilih status ini. Resiko [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dua kali mengalami kebangkrutan membuat Olivia harus menerima kenyataan pahit: kehilangan harta benda dan orang yang dicintainya. Tapi ia kini mampu bangkit dan membangun kembali usahanya yakni showroom mobil yang sukses dikembangkan lewat sistem waralaba.</p>
<p>Menjadi seorang entrepreneur harus menyimpan nyawa cadangan.Bagitu joke yang sering dilontarkan oleh orang-orang yang terlebih dulu memilih status ini. Resiko yang dihadapi memang tidak ringan. Kebangkrutan dan kegagalan seolah menjadi hal biasa yang bisa datang sewaktu-waktu. Padahal, dampak yang ditimbulkan bisa sangat serius, habis modal dan harta benda yang kita miliki.  Salah satu yang pernah mengalami kisah pahit ini adalah Olivia Antoni, pemilik Franchise Showroom Aldo Mobilindo. Tapi ia tidak menyangka jika kegagalannya dalam berbisnis itu harus dibayar mahal. Semua aset miliknya tiba-tiba ludes yang menyisakan timbunan hutang. Bahkan biduk rumah tangga yang telah dibangun selama bertahun-tahun pun akhirnya hancur. <span id="more-211"></span></p>
<p>&#8220;Rumah tangga saya hancur karena suami saya tidak bisa menerima kondisi demikian. Kami sering bertengkar sampai akhirnya dia meninggalkan kami,&#8221; kenang Olive yang merasa cukup terpukul dengan kejadian tersebut..  Tapi Olivia terdidik menjadi wanita tangguh. Keberaniannya dalam menghadapi resiko bahkan melebihi kaum lelaki. Sedari awal –meski kurang mendapat dukungan dari sang suami&#8211;, ia punya keinginan bisa menggeluti bisnis di bidang otomotif, yakni membuka showroom mobil. Padahal, semua mahfum bisnis ini biasanya hanya bisa dilakukan dengan dukungan atau back up dana yang besar. Uniknya, Olive berani bertarung hanya bermodalkan pengalaman dan data based customer dari tempat sebelumnya.  Sebagai seorang sales girl di perusahaan otomotif Tunas Daihatsu, Cilegon prestasi yang ditorehkan wanita kelahiran 19 Agustus 1976 selama 8 tahun bekerja tergolong mengkilap. Ia selalu mampu membukukan angka penjualan yang tinggi. Bahkan Olive sempat diganjar sebagai The Best Sales Penjualan Terbanyak dan meraih bonus dari ASTRA untuk keliling dunia.  “Awalnya jika ada orang yang mau jual mobil, saya tawarkan ke customer saya. Saya dapat uang fee. Ini berlangsung cukup lama dan ternyata perputaran tabungan uang saya sampai Rp1-2 miliar. Itu tidak saya duga padahal uangnya bukan dari uang saya. Tapi selisihnya menjadi hak saya,” jelasnya.</p>
<p>Kepiawaiannya sebagai sales inilah yang semakin menebalkan keyakinannya bisa berhasil membuka usaha showroom mobil.  Olivia Antoni, Owner Franchise Showroom Aldo MobilindoIa kemudian menyewa sebuah tempat ukuran 4 x 5 meter yang disulap menjadi sowroom sederhana tanpa display unit. Biar terlihat layak saat didatangi customer, Olive terpaksa memajang mobil sendiri dan beberapa mobil temannya. Pendek kata, ia benar-benar membuka showroom mobil dengan modal zero! “Tahun 2005 saya buka. Sampai suatu ketika saya dipercaya Blue Bird untuk menjual mobil bekas taksi mereka. Walaupun ada teman-teman yang menghina showroom tanpa modal, nggak punya duit saya nggak peduli. Toh, saya bisa julan 35 unit-40 unit per bulan. Untungnya kurang lebih 100 juta per bulan, jelas Olive.  Tenyata kepiawaiannya sebagai marketing memberi andil besar untuk kemajuan bisnisnya. Ia lalu memutuskan membuka cabang baru di Kota Serang.</p>
<p>Statusnya meningkat dari seorang ‘makelar’ yang hanya menjual mobil titipan menjadi ‘bos’ yang juga membeli mobil untuk kemudian dijual kembali. Ternyata keputusan ini menjadi bumerang. Jika sebelumnya dengan menjual mobil titipan ia tidak terbebani bunga, tapi kini ia harus menanggung bunga yang jumlahnya cukup besar. “Dan keuntungan saya tersedot kesana. Tahun 2006 saya bangkrut dan meninggalkan hutang sampai Rp 200 juta. Padahal saya hanya punya rumah yang masih kreditan,” kenangnya.  Ibu tiga anak ini baru menyadari jika ternyata setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. “Saya mungkin bisa memasarkan tapi tidak tahu seluk beluk mobil termasuk ke mesin-mesinnya,&#8221; kata Olive. Sadar dengan kesalahan tersebut, Olive kembali bangkit. Ia banyak melahap buku-buku bisnis dan motivasi. Sampai akhirnya dalam sebuah seminar entrepreneur university, ia diajarkan bagaimana caranya membangun aset.  Sejak tahun 2007 Olive membangun 3 aset yang nilainya cukup besar dan di tahun 2008 ia mendapat kepercayaan dari Bank BRI dengan memperoleh kucuran modal hingga Rp2 miliar. Modal sebesar itu, ia digunakan untuk membayar hutang dan dipakai untuk membeli kendaraan yang ia sendiri belum tahu produk knowledgenya.  &#8220;Seharusnya pinjaman dari BRI ini saya gunakan seluruhnya untuk modal usaha. Baru keuntungannya saya pakai untuk mencicil hutang yang ada,&#8221; tambahnya.</p>
<p>Rupanya keputusan itu melemparkannya ke titik nadir yang kedua. Kebangkrutan yang ia alami di tahun 2008 kali ini lebih parah. Selain, bsinisnya mandek, orang-orang kepercayaanya menyingkir. Bahkan sang  suami yang selama ini mendampinginya pun tidak mau menerima kondisi pahit ini. Alhasil, Olive seperti dihempaskan ke dalam jurang yang paling dalam.  Olivia Antoni, Owner Franchise Showroom Aldo MobilindoKejadian itu alih-alih mematahkan semangat tapi justru memperbesar keinginannya untuk bangkit. Baginya, kebangkrutan itu bukan suatu pilihan tapi proses untuk sukses ke tahap selanjutnya. Jadi, grafik turun naik dalam hidup buat Olive adalah hal yang biasa. ”Saya tidak pernah memikirkan besarnya beban tapi saya memikirkan berapa besar pemasukan yang masuk ke kantong saya. Tidak selamanya akan musim salju terus, pasti akan ketemu dengan musim panas,” begitu ia mengilustrasikan.  Pada saat bangkrut, seseorang seharusnya keluar dari bisnis itu untuk mencari peluang bisnis lain. Keberhasilan baru ini diharapkan bisa mensupport bisnis yang pertamanya agar bisa kembali berjalan. Seperti yang dilakukan Olivia, ketika tidak punya modal untuk jual beli mobil ia memperkenalkan konsep baru yakni membuat showroom mobil yang dijual dengan sistem waralaba.  Memperkenalkan konsep ini tidak gampang, tapi ia berusaha memberi pemahaman yang mudah dan sederhana.</p>
<p>Olive melihat peluang banyak orang yang menginginkan diajarkan membuka showroom mobil tanpa display. “Jika saya butuh waktu 8 tahun untuk bisa mendapatkan pengalaman bagaimana merakasakan kesuksesan dan kebangkrutan termasuk faktor-faktor penyebab kegagalan, maka mereka bisa meguasainya cukup butuh waktu dua tahun,” jelasnya.    Untuk franchise Aldo Mobilindo, Olive mematok harga sebesar Rp45 juta diamana franchisee akan mendapatkan berbagai fasilitas antara lain pendampingan selama 3 tahun, free training marketing, free konsultasi bisnis, free desain outlet dan promosi termasuk membantu melayani pengadaan kendaraan yang dibutuhkan. Ia optimis bisnis waralabanya bakal berkembang. Pasalnya, hanya dalam waktu 4 bulan, ia mampu membuka 24 cabang. Bahkan pihak franchisee yang  pertama kini sudah bisa BEP pada bulan kedua.  Tak hanya sampai disitu, Olive juga mulai merambah ke bisnis Spa. “Kenapa saya bikin ini, karena saya melihat spa kan susah ditemui dan rata-rata mahal. Tapi dengan dibawah 100 ribu mereka bisa melakukan berbagai perawatan disitu,” tambahnya. Usaha yang digeluti kurang dari dua bulan ini sudah memiliki lima outlet. ‘The Family Spa’ milik Olive ini juga dikembangkan dengan konsep waralaba.</p>
<p>“Dengan membayar 35 juta, mitra mendapat 10 terapis yang sudah ditraining serta mendapat pendapingan hingga bisnisnya benar-benar bisa jalan,” punkasnya seembari berpromosi.</p>
<p>disadur dari <a href="http://www.majalahpengusaha.com" target="_blank">www.majalahpengusaha.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.groovylegacy.com/2010/04/membangun-showroom-mobil-bermodal-zero/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Umur 30 sukses menjadi CEO</title>
		<link>http://www.groovylegacy.com/2010/01/umur-30-sukses-menjadi-ceo/</link>
		<comments>http://www.groovylegacy.com/2010/01/umur-30-sukses-menjadi-ceo/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2010 09:53:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[Online]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.groovylegacy.com/?p=161</guid>
		<description><![CDATA[Kegagalan mengelola beberapa bisnis menjadi pelajaran berharga bagi Mada Azhari. Kendati tidak memiliki latar belakang pendidikan media, ia punya ketertarikan yang besar terhadap bisnis media.  Usia muda selalu dipenuhi ide-ide kreatif. Termasuk semangat menyala-nyala yang seringkali membuahkan berbagai keputusan berani. Dalam banyak hal, para entrepreneur muda, khususnya, selalu berprinsip: cepat ambil keputusan, resiko belakangan. Karakteristik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kegagalan mengelola beberapa bisnis menjadi pelajaran berharga bagi Mada Azhari. Kendati tidak memiliki latar belakang pendidikan media, ia punya ketertarikan yang besar terhadap bisnis media. <a href="http://www.groovylegacy.com/wp-content/uploads/2010/01/mada_azhari.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-162" title="mada_azhari" src="http://www.groovylegacy.com/wp-content/uploads/2010/01/mada_azhari-135x150.jpg" alt="" width="135" height="150" /></a></p>
<p>Usia muda selalu dipenuhi ide-ide kreatif. Termasuk semangat menyala-nyala yang seringkali membuahkan berbagai keputusan berani. Dalam banyak hal, para <em>entrepreneur</em> muda, khususnya, selalu berprinsip: cepat ambil keputusan, resiko belakangan. Karakteristik semacam ini sangat lazim dijumpai dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Mereka bahkan tak lagi memandang dunia bisnis sebagai ‘momok’ yang mesti ditakuti.</p>
<p>Keberanian. Itulah yang kerap diajarkan oleh Mada Azhari, pendiri sekaligus pemilik beberapa perusahaan. ”Saya sering menyarankan kaum muda untuk tidak takut terjun ke dunia bisnis. Pilihlah bisnis yang sesuai <em>passion</em>. Karena faktanya banyak pengusaha sukses yang lahir dari sana,” ujar Mada. Pria berusia 29 tahun ini tentu tidak asal bicara. Ia telah melewati beragam pengalaman bisnis dari yang manis hingga yang paling getir.<span id="more-161"></span></p>
<p>Ketika usaianya menginjak 24 tahun, misalnya, Mada ’dipaksa’ menerima tongkat estafet untuk melanjutkan bisnis percetakan yang telah dirintis orang tuanya. Sang ayah, meninggal secara mendadak karena sakit. Maka ia pun harus memikul tanggung jawab atas perusahaan yang sebenarnya sudah merangkak menjadi besar. Sebagai gambaran, dengan omzet mencapai ratusan juta, produknya sudah merambah ke berbagai negara. ”Salah satu produknya adalah stiker bir bintang yang sudah banyak dikenal masyarakat,” kata Mada sembari mengenang.</p>
<p>Namun semuanya berbalik. Keberhasilan yang telah dicapai dan dipupuk selama bertahun-tahun perlahan mulai surut. Mada yang selama ini hanya dilibatkan dalam urusan pemasaran, justru ditipu oleh orang kepercayaan ayahnya. Keterbatasan pengetahuan dalam hal produksi telah dimanfaatkan orang tersebut untuk membuat berbagai proyek fiktif yang merugikan perusahaan. Alhasil, kondisinya terus memburuk. Sampai akhirnya pada tahun 2004 perusahaan tersebut benar-benar bangkrut!</p>
<p>Beban hutang yang ditinggalkan sangat besar, bahkan mencapai ratusan juta. ”Bisa dibayangkan, saya yang masih berstatus mahasiswa harus menanggung kewajiban yang begitu besar. Saya banyak didatangi pihak bank, debt collector hingga para preman yang bertujuan menagih hutang. Benar-benar situasi yang tidak menyenangkan,” tutur Mada. Tapi ia tidak ingin lari dari tanggung jawab. Dengan modal keyakinan pelan-pelan hutang yang begitu besar akhirnya bisa dilunasi.</p>
<p>Itu bukan satu-satunya kisah sedih yang dialami Mada. Masih ada yang lain, tepatnya, ketika ia dan beberapa rekannya mengelola bisnis media dengan menerbitkan majalah Entrepreneur Indonesia (EI). Majalah tersebut awalnya hanya untuk konsumsi mahasiswa serta sebatas lingkungan kampus. Tapi lantaran penyajiannya yang menarik mampu membetot perhatian para pembaca umum.</p>
<p>Tapi apa yang terjadi kemudian? Keberhasilan EI ternyata mengusik media lain yang sudah ada sebelumnya. “Nama media tersebut ternyata sudah dimiliki oleh sebuah badan usaha di luar negeri. Majalah kami akhirnya disomasi. Tidak tanggung-tanggung, kami dituntut denda sebesar US$5 juta. Sebuah angka yang sepktakuler bagi kami para mahasiswa,” tandas alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) ini.</p>
<p>Setelah berkonsultasi dengan pihak-pihak yang mengerti masalah hukum, Mada menyadari pihaknya kecil kemungkinan untuk memenangkan gugatan tersebut. Selain faktor besarnya gugatan, kasus ini juga masuk dalam wilayah hukum internasional. Artinya persidangan akan dilangsungkan di luar negeri. Maka, tak ada jalan lain, ia dan tim EI memutuskan untuk mengistirahatkan majalah yang sempat menyentuh oplah 5 ribu tersebut. Padahal, seperti diceritakan, beberapa perusahaan besar telah menjalin kerjasama diantaranya, Bank Rakyat Indonesia, Medco Energy, Antam maupun PT. Telkom.</p>
<p>Matinya EI tidak lantas membunuh kreatifitas mereka. Apalagi jejaring yang terbangun sudah sedemikian luas dan bisa menjadi modal penting dalam merancang kembali bisnis sejenis. “Saya sempat vakum beberapa waktu. Sampai akhirnya saya dan rekan-rekan tadi mencoba mendirikan perusahaan Media Citra. Sesuai namanya, kita ingin memberi kontribusi bagi sejumlah korporasi agar citranya kian positif. Bentuknya berupa media internal,” kata pria kelahiran 10 November 1980 ini.</p>
<p>Konsep media internal yang ditawarkan rupanya menarik minat korporasi besar seperti Bakrie. Mereka adalah klien pertama yang menggunakan jasa Media Citra dan berlanjut hingga sekarang. Selanjutnya, sejumlah klien lain mulai bergabung antara lain Arutmin, Bumida, Medco, dan lain-lain. Seiring meningkatnya kinerja dan pamor Media Citra, maka mulai banyak investor yang tertarik meminangnya. Ibarat kembang, Media Citra dikerubuti banyak kumbang.</p>
<p>Kondisi demikian sudah pasti memberikan kebanggan bagi para pendiri, termasuk Mada.  Kendati begitu, mereka menyadari akan dampak dari perubahan yang terjadi. &#8220;Dengan masuknya beberapa invetor maka saham kami menjadi minoritas. Tapi kami puas bisa membesarkan perusahaan tersebut,&#8221; kata Mada yang kini menjabat sebagai salah satu komisaris ini.</p>
<p>Kreativitas Mada tidak lantas mandek sampai disitu. Ia kemudian merancang untuk membesut perusahaan lain. Maka lahirlah Inventco Netmedia. Sebuah <em>internet marketing company</em> yang membantu mengarahkan agar sebuah web bisa dikunjungi ribuan traffic setiap harinya. Namun strategi komunikasi pemasarannya ditentukan berdasarkan target audience. Dengan menentukan keyword secara tepat secara geo targeting maka akan diperoleh hasil yang efektif. “Jadi ada semacam online <em>campaign</em>,” tandas Mada yang menjabat CEO Inventco Netmedia ini.</p>
<p>Responnya cukup besar kendati ia menyadari bahyak perusahaan di Indonesia yang belum aware terhadap internet. “Untuk CEO yang usianya di bawah 35 tahun, atau General Manager yang berusia antara 20-30 tahun biasanya gampang menangkap gagasan perusahaan kita. Tapi kalau usianya di atas 50 tahun agak repot karena urusannya diserahkan ke anak buah,” ujarnya sedikit mengilustrasikan. Meski terbilang sulit, toh beberapa perusahaan besar sudah memutuskan menjadi kliennya. Sebut saja, Padang Digital, Tropicom Utama Furniture, Sampoerna A Mild, Bakrie telecom serta beberapa lainnya.</p>
<p>Tidak puas hanya mengelola Inventco, Mada juga dipercaya mengelola versi online PassionMagz.com. Menurut pria yang menjabat Chief Editior ini, awalnya memang berbentuk majalah yang dikelola oleh sebuah agency. Tapi Januar Darmawan, sang pemilik, memutuskan untuk menutup majalah tersebut dan mengganti menjadi online.</p>
<p>Jika dicermati hampir sebagian besar bidang yang digeluti Mada selalu berkutat dengan media, khususnya online. “<em>Passion</em> saya memang di online,” tegasnya. Lantas apa yang ingin dicapai. “Tergetnya tidak terlalu muluk. Saya hanya berharap Inventco bisa menjadi perusahaan <em>internet marketing</em> terbesar yang bakal diperhitungkan,” pungkas Mada yang juga menjadi mengelola online lintasalumni.com tersebut.</p>
<p>disadur dan edit dari www.majalahpengusaha.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.groovylegacy.com/2010/01/umur-30-sukses-menjadi-ceo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Martabak Alim</title>
		<link>http://www.groovylegacy.com/2009/12/martabak-alim/</link>
		<comments>http://www.groovylegacy.com/2009/12/martabak-alim/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 03:48:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[Waralaba]]></category>
		<category><![CDATA[martabak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.groovylegacy.com/?p=132</guid>
		<description><![CDATA[Hidup dari penghasilan pas-pasan bahkan terkadang kurang, membuat pria yang akrab disapa Alim ini gonta-ganti profesi. Mulai dari kuli bangunan, kernet, sopir angkot, sampai tukang mie gerobak pernah dijalaninya. Tekad yang bulat mengubah nasibnya menjadi lebih baik sehingga ia membuka usaha martabak pada 20 November 2007 dengan modal hanya Rp 13 juta yang digunakan untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hidup dari penghasilan pas-pasan bahkan terkadang kurang, membuat pria yang akrab disapa Alim ini gonta-ganti profesi. Mulai dari kuli bangunan, kernet, sopir angkot, sampai tukang mie gerobak pernah dijalaninya. Tekad yang bulat mengubah nasibnya menjadi lebih baik sehingga ia membuka usaha martabak pada 20 November 2007 dengan modal hanya Rp 13 juta yang digunakan untuk kontrak tempat usaha 2 x 2m Rp 6 juta dan beli bahan baku Rp 7 juta.</p>
<p>Waktu booming BreadTalk di daerahnya, ALim meneliti bahwa antrean  di sana disebabkan oleh varian rasa. Hal ini yang menginspirasikan Alim membuka usaha martabak, dan kebetulan pula dia besar dari keluarga penjual martabak.<span id="more-132"></span></p>
<p>Muncul di tengah ketatnya persaingan , ALim menghadirkan varian rasa baru. Tak heran dalam waktu singkat, Alim telah memiliki 3 gerai martabak. Jumlah gerai terus bertambah setelah diwaralabakan sejak 2008. Hingga kini telah ada 89 gerai tersebar di Jakarta, Bogor, Depok, Yogyakarta, Tangerang, Bekasi, Bandung , Riau, Bangka.</p>
<p>Varian rasa yang disediakan oleh Alim adalah keju, tape keju, kurma keju, cempedak keju, duiran, kacang mede keju, nangka keju, pandan keju, hitam manis keju, anggur, strawberry, blueberry, black currant, mix fruits.</p>
<p>Selain menawarkan varian rasa, juga menyediakan berbagai ukuran, jumbo, unyil, mini, dan spesial. Harga ayang ditawarkan beragam dari Rp 4-10 ribu / buah ukuran unyil, ukuran mini Rp 15 ribu, ukuran jumbo Rp 20 ribu, dan spesial Rp 31-50 ribu. Martabak telur dijual Rp 19-35 ribu.</p>
<p>Untuk yang berminat menjadi mitra harus siapkan dana Rp 120 juta di luar biaya sewa tempat. Investasi sebesar itu sudah termasuk franchisee fee Rp 50 juta untuk 1 x saja, stok bahan baku awal Rp 20 juta, Rp 50 juta dekorasi tempat, peralatan usaha, biaya promosi.</p>
<p><strong>Berminat hubungi</strong> : Martabak Alin Pusat, Villa Nusa Indah Blok T6 no 1 Bekasi. 021-82400147, martabakalim@yahoo.com, www.martabak-alim.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.groovylegacy.com/2009/12/martabak-alim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

